Senin, 14 Desember 2009

GDLN

Peluncuran GDLN Indonesia dan Horizon Baru
Ditulis oleh Irwandi
Thursday, 10 July 2008
Rabu, 9 Juli, adalah hari yang sangat menggembirakan bagi dunia pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA, di dampingi oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, dr. Fasli Jalal, Ph.D dan Direktur Komunikasi World Bank untuk kawasan Asia Fasifik, Mr. Peter Stephens melakukan Video Tele Conference dalam rangka peluncuran GDLN Indonesia (The Launch of Indonesia Global Development Network).
Vicon ini teristimewa, karena diikuti juga oleh Sekretaris Jenderal ASEAN, Dr. Surin Pitsuwan dari kantor World Bank Manila dan Deputi menteri Pendidikan Vietnam, Mr. Tran Van Nhung dengan penuh antusias. Serta lima Universitas di Indonesia, yaitu Universitas Syiah Kuala, Aceh; Universitas Udayana, Bali; Universitas Tadulako, Palu; Universitas Hasanuddin; dan Universitas Papua.

Peluncuran ini adalah rangkaian dari kegiatan pertemuan regional GDLN Asia Pasifik yang berlangsung 8-10 Juli 2008 dengan peserta dari 12 negara anggota GDLN. Duta besar Negara-negara sahabat yang tergabung dalam GDLN, lembaga-lembaga internasional, media massa, serta akademisi juga turut mengadiri pertemuan ini. Di dalamnya dibahas tentang berbagai program dan kerjasama internasional pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk peningkatan pendidikan tinggi khususnya, pembangunan dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya (pers depdiknas).

Peluncuran ini kita sebut menggembirakan, karena saat ini dengan dibukanya “Jalan Tol” GDLN yang menghubungkan seluruh jaringan inherent, perguruan tinggi Indonesia tidak hanya terkoneksi secara nasional, tapi terhubung ke seluruh jaringan Universitas dunia. Kalau selama ini GDLN di Indonesia sebagai proyek rintisan dikti (dibuka 2002) hanya ada di empat universitas Indonesia (UI, UNHAS, UNRI, dan Udayana), sekarang jumlahnya berlipat-lipat menjadi ratusan. Kata Mendiknas, GDLN Indonesia menjadi GDLN terbesar saat ini. Ke depan dalam konteks mendukung eksistensi dan keberlanjutan GDLN ini, Menteri juga menambahkan bahwa GDLN ini akan dijadikan sebagai Badan Layanan Umum (BLU).

Pada tahun 2008 ini bahkan akan bertambah 100 site lagi masuk dalam jejaring GDLN Indonesia ini. Saat ini saja yang tergabung dalam jejaring inherent adalah seluruh perguruan tinggi negeri yaitu 82 ditambah 12 Kopertis dan 150 perguruan tinggi swasta. Tentu saja ini adalah prestasi yang cukup membanggakan.

Ada beberapa hal mendasar menurut Dirjen Dikti, yang akan berubah dengan pemanfaatan jaringan ini. pertama adalah terjadi perubahan mindset pelaku pembelajaran, karena tersedianya multi sumber pembelajaran di mana-mana. Berubah dari Teaching kepada learning, di mana pengajar hanya sebagai fasilitator saja bagi peserta didiknya.

Kedua adalah terbukanya horizon atau cakrawala berfikir, karena melalui tatap muka virtual video tele conference akan terjadi saling belajar dan tukar menukar pengalaman, best practice, benchmark, antara perguruan tinggi Indonesia dengan perguruan-perguruan tinggi terbaik di luar negeri.

Horizon ini atau peluang ini seperti pernah disampaikan oleh Direktur Unesco Office Jakarta, bapak Dr. Hubert Gijzen tidak bertepi, the sky is the limit. GDLN sebagai jejaring TIK internasional dengan anggota lebih dari 80 negera itu, terutama bagi perguruan tinggi Indonesia bisa dimanfaatkan untuk media pembelajaran, dialog, seminar, konferensi antara perguruan tinggi Indonesia dan perguruan tinggi luar.

“Ke dalam (nasional) dengan jejaring ini segala kebijakan nasional langsung bisa disampaikan melalui video tele-conference, tanpa perlu lagi memanggil para pimpinan perguruan tinggi. Memanfaatkan jaringan ini juga terjadi kerjasama pembelajaran dan penelitian antara universitas, seperti yang dilakukan oleh APTIKOM dan Unhas”, kata Dirjen.

Bahkan, tambah Dirjen Dikti, jaringan ini tidak hanya akan memberi manfaat semata bagi perguruan tinggi, bahkan komunitas pendidikan lain dan tidak tertutup kemungkinan komunitas di luar pendidikan juga bisa memanfaatkannya. GDLN ini kata Dirjen, “connecting any corner of Indonesia to the World and bring the world to any corner of Indonesia”.

By Irwandi
.:LANJUT BACA>>GDLN

Selasa, 01 Desember 2009

RENUNGKANLAH


Kaum feminis bilang susah jadi wanita, lihat saja peraturan dibawah ini;
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.
.Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA ". Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ?
Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiarkan terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.
*Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3x lebih utama daripada kepada bapaknya?
*Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak?
*Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya?
*Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita, yaitu: isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu: suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
*Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu: sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.
*Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

ALLAH ITU MAHA ADIL!!!!

Sumber: dudung net
.:LANJUT BACA>>RENUNGKANLAH